gbne.blogspot.com - Saat kecil, semua orang pasti memiliki kenangan yg mungkin tak terlupakan. Kisah ni terjadi saat saya duduk di kelas satu eSDe. Sore hari biasa kami isi dgn mengaji di tpq. Jarak tpq dan rumah mungkin ada 1 km. Bersama kakak dan seorang teman, kami terbiasa berangkat dan pulang bersama.
Zaman dulu, berjalan kaki merupakan perkara yg dilazimi banyak orang, begitupun dgn kami. Berbeda dgn zaman sekarang, banyak anak eSDe yg beraksi dgn sepeda motornya.
Sore itu masih musim panen kacang hijau. Hamparan hitam terhampar di sawah. Ya, matangnya kacang hijau ditandai dgn kulit yg menghitam. Seperti biasa, kami pulang tpq bersama. Setelah memilih lewat pematang sawah, dgn riangnya kami berjalan beriringan. Sebenarnya ada jalan setapak menuju rumah, tapi kami memilih jalur hijau.
Ada udang di balik rempeyek, eh, dibalik batu. Kami menyusuri sawah sembari mengamalkan peribahasa Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Saat berjalan, tangan kami asyik memetik beberapa batang (saya kurang tau, istilahnya apa) kacang hijau. Saya tak dibebani tugas memetik, hanya mereka berdua. Tapi tas saya menjadi gudang seleundupan yg tak seberapa itu. Ada perkataan menarik yg diucapkan kakak saya.
ngambilnya jangan banyak-banyak, satu petak sawah satu batang aja, kasihan petaninya, biar kita nggak dianggap nyuri. (kurang lebihnya begitu kalau diucapkan dgn Bahasa Indonesia, ^^) Intinya, menurut kami (saat itu), kalau mengambil kacang hijau dlm jumlah sedikit maka tak disebut mencuri. (padahal mah sama saja, he). Kejadian itu terjadi dua hari berturut-turut. Kami berniat akan membuat bubur dgn kacang hijau yg kami peroleh. Padahal jika kalian tahu, kacang hijau yg kami dpt sangatlah sedikit. Tentu saja, karena kami memetik dgn hati nurani, sedikit sekali.^^. Hingga ketika ibu saya tahu, beliau pun menasihati kami untk tak mengulangi perbuatan tersebut. Esoknya, saya disuruh mengantar semangkuk bubur kacang hijau untk teman saya. Ya, akhirnya kami dibuatkan bubur dgn biji kacang hijau yg bukan hasil selundupan kami. Alhamdulilah. Setelah itu, kami tak pernah lagi mengulangi kenakalan itu. Hingga saat ini, jika saya mengingat kejadian tersebut, saya hanya tersenyum. Betapa kreatifnya kami ketika kecil dahulu.
NB: kepada bapak2 yg kacang hijaunya hilang beberapa biji karena ulah kami, kami mohon maaf sebesar-besarnya.
other source : http://tempo.co, http://yuukiqueen.blogspot.com, http://bbc.co.uk
0 Response to "Penyelundup Kacang Hijau - Memoar"
Posting Komentar